Apa itu gerakan renaisans Jawa?

Gerakan Renaissance Jawa

“Sekar Jagad”

“HONG ILAHENG, SEKARING BAWANA LANGGENG”

“….. Demikian juga selain mengenai masalah kibijaksanaan, tahu sebelum mendapatkan pengajaran serta mengenai segala hal tentang ilmu kesaktian, bisa menghilang serta tampak seperti yang aku ceritakan kepadamu tadi.Sebab di hamparan bentangan bumi dan dibawah langit yang mendapatkan ijin untuk memperlihatkan kebijaksanaan, kesaktian yang luar biasa, hanyalah Engkau beserta sanak keluargamu. “

“Jadi kelebihan orang-orang di barat daya negeri Hindi tersebut, hanya sebatas kemampuan manusia biasa.Adapun yang menguasai Negara, raja atau pembesar di negeri Hindi dan seterusnya serta pulau-pulau di tenggara negeri Hindi, secara turun-temurun tidak ada lain, semua itu berasal dari silsilahmu serta silsilah para dewa keluargamu.”(Paramayoga Ranggawarsita, Otto Sukatno Cr.)

* * *
Pendahuluan

Dalam rangka mengajak banyak pihak mendirikan Yayasan Sekar Jagad, maka penulis mewacanakan perlunya Gerakan Renaissance Jawa.Merupakan kegiatan untuk mengkaji, meneliti, merekonstruksi kembali dan merevitalisasi budaya dan peradaban Jawa.

Sejarah panjang Jawa dalam berinteraksi dengan budaya dan peradaban dari luar tanpa disadari telah menjadikan manusia Jawa masa kini sebagai manusia gamang, “gojag-gajêg” merasa asing dengan budaya dan peradabannya sendiri.Bahkan tidak sedikit yang menganggap budaya dan peradabannya sangat primitif bernuansa klenik dan tahayul.Kenyataan yang menyakitkan, namun harus diterima dengan lapang dada.Masalahnya Jawa memang tidak memiliki ‘sistim’ yang teroganisir dalam rangka mempertahankan nilai-nilai budaya dan peradabannya.Tidak pula memiliki sistim pembelajaran dari generasi ke generasi berikut dengan penataan yang terstrategi.Semua dibiarkan berjalan secara alamiah semata.Hanya naluri (ôtôt bayu) Jawa yang pada kenyataannya masih mampu membuat budaya dan peradaban Jawa bertahan hingga saat ini.

Sesungguhnya banyak para lajêr Jawa yang memiliki perhatian dan telah melakukan kegiatan-kegiatan untuk kebangkitan budaya dan peradaban Jawa.Namun sejauh ini belum terbentuk organisasi dan tersusun suatu ‘Perencanaan Program’ yang memadai.Kenyataan yang ada justru menunjukkan cerai berainya para penggiat ke-Jawa-an tersebut.Egoisme perorangan maupun kelompok mengemuka sehingga tidak ada kesatuan visi maupun misi dalam upaya membangkitkan budaya dan peradaban Jawa.

Luasnya cakupan budaya dan peradaban Jawa merupakan salah satu kendala banyak pihak yang berusaha membangkitkan budaya dan peradaban Jawa.Kemudian soal pendanaan menjadi kendala berikutnya sehingga memandekkan kegiatan yang diadakan.

Bertolak dari data-data sebagaimana disebutkan, maka wacana renaissance Jawa oleh Yayasan Sekar Jagad ini digulirkan.Bahwa gerakan ini merupakan kesadaran dan keinginan seluas-luasnya masyarakat Jawa sendiri.Maka strategi awalnya brupa upaya-upaya membangun kesadaran masyarakat Jawa untuk memahami ke-Jawa-annya sendiri. Untuk itu diperlukan jabaran atau definisi ‘Jawa’ yang rasional mencakup:

1. Siapakah wông Jawa ?

2.Definisi dan pengertian ke-Jawa-an (budaya dan peradaban Jawa)

3.Nilai-nilai (values) ke-Jawa-an (budaya dan peradaban Jawa)

4.Nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang mau dihidupkan kembali, dipertahankan dan dikembangkan serta ‘kebersinggungan’ (hybrid interconectedness)-nya dengan budaya dan peradaban lain, terutama budaya dan peradaban Barat.

5.Nilai-nilai utama filosofi Jawa yang akan dikontribusikan ke dalam nilai-nilai ke-Indonesia-an

6.Alur proses untuk No. 4 dan No. 5

7. Aliran (flow) untuk No. 6 melalui wahana/means apa ?

8.Program tindak lanjut, perbaikan dan pengembangan yang berke-lanjutan

Delapan ‘kerangka acuan selisik’ tersebut di atas memerlukan ‘sumbang saran’ atau ‘curah gagas’ dari para pihak dengan kapasitas keahlian/keilmuan masing-masing yang kemudian dirangkum dalam suatu ‘musyawarah bersama’ guna menyusun ‘Rencana Program Renaissance Jawa’ yang paripurna.

Tulisan berikut merupakan ‘pembuka’ untuk bisa kiranya mendapatkan respon para pihak. Sehingga dengan demikian bisa semakin mendalam selisik bersama yang kita adakan terhadap delapan hal acuan dimaksud.

Merasa diri belum memadai dalam banyak hal, maka penulis mohon maaf sekiranya ‘sajian pemancing’ ini kurang mengena.Kiranya baru sebatas inilah pemikiran yang dimiliki penulis dalam rangka ikut mengabdikan ‘kawruh’ kepada upaya renaissance Jawa.

Sumangga, swuhn.

Ingin Sehat dan Sejahtera? Segera klik www.kdpbiz.com/?page_id=217

Siapakah wông Jawa ?

Banyak pendapat (teori) untuk menelusuri asal-usul orang Jawa.Ada yang berdasar kajian ilmiah dan ada pula yang berdasar mitologi dan dongeng-dongeng.Diantaranya bisa disajikan:

1. Teori yang selama ini didoktrinkan dan diajarkan kepada kita, bahwa wông Jawa itu termasuk “Ras Melayu” yang cikal bakalnya berasal dari tempat yang dinamakan “Hindia Belakang”.Ras Melayu menyebar ke Nusantara karena terdesak oleh migrasi Ras Arya dan Ras Mongolia dari arah pedalaman Asia Daratan.Teori migrasi yang menyebutkan nenek moyang wông Jawa (Nusantara) dari Hindia Belakang ini berpijak dari asumsi bahwa Ras Arya, Ras Kaukasus dan Ras Mongolia adalah “Ras Manusia” yang lebih dulu beradab dibanding ras-ras manusia lainnya di dunia ini.Maka bila didasarkan kepada teori ini, Jawa dianggap belum memiliki budaya dan peradaban.

2.Berdasarkan ‘dongeng ngayawara’ yang dikemas sebagai ‘ramalan Jayabaya’, maka orang Jawa adalah kumpulan orang-orang dari Asia Daratan yang dikirimkan ke P. Jawa atas perintah ‘Kaisar Rum’ yang memprihatinkan keadaan P Jawa yang tidak berpenghuni.Teori awur-awuran ini justru banyak diyakinai orang Jawa sendiri.Termasuk mempercayai gunung Tidar (di Magelang) sebagai ‘pantek’ (tiang pancang) yang memaku pulau Jawa agar tenang dan bisa dihuni manusia.

3.Menurut cerita kakawin (Mataram Kuno – Majapahit) dan serat-serat kapujanggan (Mataram Kartosuro – Surakarta), maka orang Jawa jelata adalah penjilmaan dari para binatang dan lelembut, sementara para raja-rajanya anak keturunan dewa yang merupakan keturunan Bathara Guru (Sang Hyang Jagadnata).

4.Berdasar teori anthropologi menyatakan bahwa ‘homo sapiens’ (manusia baru) berdatangan ke Jawa dari Mongolia dan Asia Daratan lainnya.Migrasi besar-besaran terjadi ketika jaman es mencair.

5.Temuan arkeologi berupa fosil manusia purba di Sangiran dan Mojokerto membuktikan bahwa jutaan tahun yang lalu Jawa sudah dihuni mahluk ciptaan Tuhan.Namun sampai saat ini belum bisa dibuktikan adanya evolusi manusia purba menjadi manusia baru (homo sapiens).

6.Berdasar ciri-ciri fisik orang Jawa, maka menunjukkan bahwa orang Jawa merupakan hasil asimilasi berbagai ras dan etnis. Mongolia, Melayu, Melanesia, bahkan Negrito ada jejak ciri fisiknya pada wông Jawa.

Semua teori asal-usul nenek moyang orang Jawa tersebut kenyataannya masih relatif. Maka kemudian definisi untuk orang Jawa adalah yang menggunakan bahasa Jawa.Berdasar definisi ini, menarik untuk dikemukan definisi bahasa :

Bahasa adalah kesatuan perkataan dan sistem penggunaannya yang umum dalam pergaulan antar anggota suatu masyarakat atau bangsa dengan kesamaan letak geografi atau kesamaan budaya dan tradisi. Dengan demikian, selain memiliki fungsi utama sebagai wahana berkomunikasi, bahasa juga memiliki peran sebagai alat ekspresi budaya yang mencerminkan bangsa penggunanya.” [1]

Bertolak dari definisi bahasa tersebut di atas, maka bahasa Jawa merupakan ekspresi budaya Jawa.Dengan demikian yang disebut wông Jawa asumsinya adalah yang terampil menggunakan bahasa Jawa lisan dan tulisan serta kental dengan aras budaya Jawa itu sendiri.Asumsi ini memang belum sepenuhnya bisa dijadikan definisi Jawa, namun bisa digunakan untuk melanjutkan selisik terhadap ke-Jawa-an.

Melia Propolis dan Melia Biyang telah terbukti dapat menjadi suplemen berkhasiat untuk menjaga Kesehatan dan Kebugaran…

Ke-Jawa-an (Budaya dan Peradaban Jawa)

Menelisik makna ke-Jawa-an atau budaya dan peradaban Jawa, maka perlu diawali dengan merekonstruksi pandangan hidup (filosofi) Jawa.Sementara dalam perjalanan sejarahnya, Jawa banyak mengalami transformasi budaya yang menghasilkan sinkretisme dan berdampak kepada perubahan ‘pandangan hidup’ Jawa.Namun demikian, banyak unsur-unsur budaya yang bisa dijejaki sebagai budaya asli Jawa.Dalam hal ini hasil penelitian Prof. Brandes (1889) bisa dijadikan rujukan untuk menelisik lembih lanjut.10 (sepuluh) unsur budaya asli Jawa yang dinyatakan Prof. Brandes adalah :

1.

Pertanian beririgasi

6.

Batik

2.

Pelayaran

7.

Metrum

3.

Perbintangan

8.

Pengecoran logam

4.

Wayang

9.

Mata uang

5.

Gamelan

10.

Sistem pemerintahan yang teratur

(Brandes, 1889).

Berdasar hasil penelitian dan selisik Prof. Brandes tersebut maka bisa diambil asumsi bahwa Jawa telah beradab sejak jaman sebelum masuknya budaya dan peradaban dari luar.Beberapa unsur budaya yang disebut Prof. Brandes ada yang dimiliki oleh etnis-etnis lain di Nusantara dan daratan Asia, namun ada pula yang khas Jawa.Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa budaya dan peradaban Jawa hasil turunan dari Asia Daratan (Hindia Belakang) tidak seluruhnya benar.Justru sebaliknya, kemungkinan besar Asia Daratan yang menerima sebaran budaya dan peradaban dari Jawa.Landasan pemikirannya bahwa Jawa (Nusantara) merupakan bangsa bahari hingga memiliki kemampuan mengarungi samudera, sementara bangsa-bangsa Asia Daratan bukan bangsa bahari. Meskipun pengembara, namun pengembaraan mereka berada di daratan. Maka pada kitab kuno peninggalan bangsa Asia Daratan (Ramayana dan Mahabharata) tidak ada diskripsi tentang kapal dan perahu.Sedangkan diskripsi kapal dan perahu itu ada di Nusantara.Diantaranya pada kitab kuno Bugis, I La Galigo.Di Jawa, bahkan berupa pahatan relief di dinding candi Borobudur.Oleh karena itu wacana Jawa (Nusantara) menyebarkan budaya dan peradabannya ke seluruh penjuru dunia menarik untuk dikaji lebih mendalam.

Selisik para peneliti lain menyatakan bahwa masyarakat Jawa mempunyai pandangan tentang ‘yang ada’ merupakan ‘kesatuan tunggalsemesta’[2] yang terhubungkan secara‘kosmis-magis’ antara ‘jagad gêdhé’ (alam semesta) dan ‘jagad cilik’ (manusia).Pijakannya bertolak dari ‘kawruh sangkan paran’ dan ‘memayu hayuning bawana’.

Dari kedua kawruh Jawa tersebut bisa kita rumuskan aras/dasar filosofi Jawa :

1.Kesadaran ber-Tuhan

Artinya bahwa filosofi Jawa menyatakan adanya Tuhan sebagai Kang Murbeng Alam (Penguasa Alam Semesta).Pernyataan dalam ‘kawruh sangkan paran’ : semua yang ada berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan lagi.

2.Kesadaran Semesta

Merupakan ekspresi kesadaran adanya hubungan kosmis-magis manusia dengan alam semesta.Wujud ekspresinya berupa pandangan Jawa tentang ‘Bapa Angkasa’ dan ‘Ibu Bumi’.Menurut pandangan Jawa ini, maka ‘uripe manungsa’ disangga unsur-unsur dari angkasa dan bumi yang ‘kasuksma’ oleh ‘dzat sejatining urip’.dari filosofi ini pula diturunkan konsep wacana ‘manunggaling kawula gusti’ dan ‘sedulur papat kalima pancer’. [3]

3.Kesadaran wajib beradab bagi umat manusia

Ide dasar ‘Kesatuan Tunggal Semesta’ melahirkan ajaran kewajiban manusia untuk ‘melu memayu hayuning bawana’.Maknanya bahwa kewajiban manusia sebagai ‘ciptaan Tuhan’ adalah ikut menyangga ‘Kesatuan Tunggal Semesta’.Keluarannya berupa ‘nilai rukun’ dan ‘nilai selaras’ yang harus dioperasionalkan oleh manusia Jawa.Mengoperasionalkan ‘nilai rukun’ dan ‘nilai selaras’ merupakan ekspresi keberadaban.Di dalamnya terkandung: kemerdekaan, kesejahteraan umum dan perdamaian abadi dalam rangka manusia hidup bersama dengan manusia lain, bahkan dengan semua mahluk ciptaan Tuhan.Landasannya, bahwa setiap manusia memiliki ‘sedulur tunggal dina kelairan’ yang wujudnya adalah anak semua titah dumadi yang lahir pada hari yang sama dengan manusia tersebut.Kesadaran bersaudara dengan semua ‘titah dumadi’ merupakan tingkat tertinggi dari keberadaban manusia.

Berdasarkan 3 (tiga) aras filosofi Jawa tersebut diatas budaya dan peradaban Jawa berpijak.Artinya, bahwa semua budaya dan tata peradaban Jawa memuat (mengandung) aras kesadaran ber-Tuhan, aras kesadaran semesta, dan keberadaban manusia.Contohnya dalam ritual ‘sedekah bumi’.Disamping pembacaan doa kepada Tuhan, ada mantra-mantra dan sesaji yang dipersembahkan kepada alam semesta.

Mantra dan sesaji memang sering dijastifikasi sebagai klenik dan tahayul.Namun jastifikasi ini menunjukkan ‘kebodohan’, karena membaca mantra dan bersesaji untuk komunikasi dengan alam semesta merupakan suatu tingkat keberadaban manusia. Keberadaban sebagai hasil olah nalar, olah pikir, dan olah kebatinan (spiritual).Hanya titah manusia yang diberi kelebihan demikian.Mahluk lain, seperti binatang, tidak memiliki kemampuan olah nalar, olah rasa dan olah kebatinan.

Melia Propolis dan Melia Biyang telah terbukti dapat menjadi suplemen berkhasiat untuk menjaga Kesehatan dan Kebugaran…

Bahasa Jawa

Sepuluh unsur budaya yang dikemukakan Prof. Brandes tidak menyebut tentang bahasa Jawa (lisan dan tulis).Menilik unsur-unsur yang disebut, logikanya semua unsur tersebut terekspresikan dan menyebar melalui bahasa (lisan dan tulis).Karena berkaitan dengan budaya Jawa, maka bahasa tersebut juga bahasa Jawa.

Pada umumnya penelitian dan penelisikan tentang budaya dan peradaban Jawa jaman kuno melalui peninggalan arkeologis (prasasti) yang menggunakan bahasa Sanskerta dengan aksara Dewanagari dan bahasa Kawi (Jawa Kuno) dengan aksara Jawa Kuno.Padahal penggunaan bahasa dan aksara tersebut mencakup geografis yang lebih luas dari geografi komunitas Jawa asli.Oleh karena itu, sering menimbulkan suatu ‘wacana miring’ yang menyatakan ‘Jawa menjajah unsur-unsur lain di Nusantara (Indonesia)’.Padahal yang terjadi, sepanjang sejarahnya Jawa justru berada dalam kekuasaan wangsa-wangsa yang tidak selalu asli Jawa.Hal ini dengan jelas bisa dijejaki lewat banyak cerita kakawin dan serat kapujanggan.Statemen para raja Jawa yang menyatakan sebagai keturunan wangsa Bharata (India) yang ke atasnya lagi para dewa cukup membuktikan bahwa ‘Elite Penguasa Jawa’ jaman kuno bukanlah ‘pribumi’ Jawa.Demikian pula pember-lakuan bahasa Kawi (Jawa Kuno) sejak Jaman Mataram Hindu sampai Majapahit menunjukkan ‘kooptasi’ wangsa-wangsa penguasa tersebut kepada Jawa, Sunda, Bali dll.

Namun bentuk kooptasi wangsa-wangsa tersebut bukan ‘penja-jahan’, maka diterima bahkan didukung.Prinsipnya sebagaimana Jawa sekarang mendukung NKRI.Maka boleh diduga bahwa pada masa kuno eksistensi bahasa daerah (termasuk) Jawa tetap berjalan berdampingan dengan bahasa pemersatu (Sanskerta dan Kawi).Bahkan yang terjadi banyak budaya dan peradaban Jawa diadopsi oleh wangsa-wangsa penguasa tersebut dan disebarkan ke seluruh wilayah kekuasaannya. Bukti untuk itu adalah pembuatan ‘Ankor Watt’ (abad 12 Masehi) di Kamboja oleh tenaga kerja (seniman pematung dan pembuat candi) dari Jawa.[4]

Menurut pendapat Bung Karno[5], Indonesia (Nusantara) pernah memiliki Negara Bangsa dua kali sebelum NKRI.Yang pertama di masa Sriwijaya dan yang kedua Majapahit.Pada kedua Negara bangsa tersebut diberlakukan bahasa pemersatu (lingua franca).Jaman Sriwijaya menggunakan bahasa Melayu Kuno dan jaman Majapahit bahasa Jawa Kuno meneruskan dinasti-dinasti sebelumnya.Demikian pula termasuk bahasa tulis (aksara) – nya.

Ketika Majapahit (pusat pemerintahan di Jawa) runtuh, maka ikut runtuh pula bahasa Jawa Kuno yang menjadi bahasa pemersatu.Setiap daerah di wilayah Majapahit kembali ke bahasa aslinya, termasuk penggunaan aksaranya.Pasundan dan Bali langsung mengaktifkan kembali bahasa dan aksaranya. Sementara Jawa yang sudah banyak dipengaruhi Islam justru memberlakukan aksara ‘Arab Pegon’.Hal ini bisa dimaklumi karena penguasa Jawa (Demak, Cirebon, Banten) merupakan kesultanan Islam.

Ketika kekuasaan Jawa pindah ke pedalaman (Pajang & Mataram) yang pengaruh Islamnya tidak sekuat di Pesisir Utara (Demak, Cirebon, Banten), maka mulai berkembang penggunaan ‘Aksara Carakan’.Pada pemerintahan Sultan Agung ‘Aksara Carakan’ resmi digunakan dalam pemerintahannya.Termasuk penetapan Kalender Jawa yang berlaku hingga sekarang ini juga dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Agung.Maka secara samar-samar bisa dikatakan bahwa pada masa Sultan Agung tersebut dimulainya ‘renaissance Jawa’.

Kebangkitan Jawa masa Sultan Agung semakin berkembang dan mencapai puncaknya ketika jaman Kapujanggan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat.‘Pemberontakan’ Jawa terhadap pengaruh-pengaruh budaya asing (Hindu, Buddha, Islam) terekspresikan dengan lugas melalui karya-karya para pujangga tersebut.Media penyebarannya menggunakan ‘tembang-tembang’ yang ternyata sangat efektif bisa mencakup ke pelosok-pelosok desa.Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat bawah Jawa masih belum tersentuh oleh ‘bahasa pemersatu’ dari wangsa-wangsa yang pernah berkuasa.

Berawal dari ‘kebangkitan’ Jawa pada masa Kapujanggan inilah terjadi semacam ‘rivalitas’ ajaran (filosofi) Jawa dengan ajaran agama (Islam).Kepentingan-kepentingan politik penjajah Belanda ikut bermain hingga mempertajam ‘rivalitas’ tersebut.Maka di masa ini ikut lahir dan berkembang Kejawen dalam arti kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa khas Jawa.

Dikarenakan ada ‘rivalitas’ tersebut, maka pada masa jaman Kapujanggan inilah mulai ditulis kembali cerita-cerita kakawin dengan bahasa Jawa dan aksara Jawa (Carakan).Namun penulisan ulangnya ternyata dimasuki ‘pemberontakan’ Jawa terhadap dominasi budaya dan peradaban asing dimaksud.Diantaranya merubah karakter tokoh-tokoh dalam kisah Mahabharata sebagaimana karakter Drona yang aslinya terhormat manjadi tokoh yang dilecehkan.Karakter buruk Pendhita Durna bukan sekedar ‘aksi melawan’ dominasi Hindu, namun secara terang-terangan justru sebagai ‘aksi perlawanan’ terhadap peradaban Arab yang terbawa pada penyebaran agama Islam.Maka boleh diamti figur Dorna tersebut dalam boneka wayang kulit.

Dengan kecerdikan luar biasa, pada masa itu disusun karangan untuk mengedepankan ‘ideologi Jawa’.Diantaranya berupa ceritera mitos yang mempertemukan mitologi India (Hindu), Srilangka (Buddha), Timur Tengah – Rum/Arbun (Islam) dan Jawa[6].Melalui karangan tersebut tersirat secara halus ‘keunggulan’ Jawa dalam konsep teologi dan mitologi.Demikian pula tentang peradaban Jawa yang mengedepankan ‘nilai rukun’ dan ‘nilai selaras’ dan mentabukan konflik antar sesama titah dumadi.

Pada masa Kapujanggan menyiratkan terjadinya ‘benturan antar peradaban’ di Jawa.Intensitasnya menjadikan bahasa Jawa beserta huruf Carakan berkembang pesat karena dipakai sebagai sarana defensif Jawa terhadap masuknya budaya dan peradaban asing (Arab, Cina, Belanda, dll.). Dampak lain dari ‘benturan antar peradaban’ (the battle of civilization) adalah lahirnya kembali (renaissance) nilai-nilai dalam budaya dan peradaban Jawa.

Bahasa Jawa di masa Kapujanggan mengalami kemajuan yang luar biasa.Pada masa ini lahir bahasa Jawa yang bertingkat-tingkat sesuai penggunaannya.Mulai bahasa untuk pergaulan antar manusia sehari-hari (ngoko dan krama tengahan), bahasa krama inggil untuk kalangan priyayi, bahasa pedalangan, sampai kepada bahasa mantra yang digunakan untuk komunikasi dengan titah gaib.Banyak falsafah (ajaran) dan ide Jawa ditulis dengan menggunakan aksara Jawa yang aksara tersebut disosialisasikan sedemikian rupa mengandung makna filosofis.Barangkali saja pemberian makna filosofis terhadap aksara Jawa sebagai upaya halus para cendekiawan Jawa terhadap dominasi huruf Arab yang sosialisasinya ‘ada nilai pahala pada setiap hurufnya’.Wallahu’alam.

Renaissance Jawa pada jaman Kapujanggan merupakan titik awal Jawa memperoleh ‘kedaulatan spirituil’.Masa sebelumnya tidak pernah eksis karena selalu berintegrasi dan berada di bawah budaya dan peradaban yang berlaku untuk seluruh wilayah Nusantara.Eksistensi Jawa ini semakin berkembang ketika pemerintah Hindia Belanda membuka sekolah-sekolah di Jawa.Sebaran nilai-nilai Jawa yang tadinya berada hanya di pusat kerajaan (kota) dengan media sekolah tersebut menyebar ke pelosok-pelosok desa.Guru-guru sekolah tersebut dididik sebelumnya dengan nuansa Barat (Belanda), maka yang terjadi sebenarnya adalah sebaran budaya Jawa yang termoderenkan Barat.Artinya mulai bersinggungan budaya dan peradaban Jawa dengan modernisasi Barat.

Cakrawala putra-putra Jawa terbuka dan kemudian mampu menatap ‘dunia luar’ ketika kemudian banyak putra priyayi Jawa berkesempatan melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda.Arus perubahan menuju modernisasi menjadi bertambah kuat.hal ini mempengaruhi orang Jawa untuk lebih fokus belajar budaya dan peradaban Barat.Dampaknya orang lebih cenderung menguasai bahasa Melayu dan aksara Latin katimbang bahasa Jawa dan aksara Carakan.

Ketika Indonesia diberdirikan, bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia dan dijadikan bahasa persatuan nasional, maka orang Jawa semakin cenderung untuk mampu dan terampil berbahasa Indonesia.Demikian pula penguasaan bahasa tulis Latin lebih populer katimbang penguasaan aksara Carakan.Hal yang wajar karena penguasaan bahasa tulis Latin dan bahasa lisan Indonesia serta bahasa asing merupakan sarana mengglobal dan ‘mobilitas ke atas’.

Melia Propolis dan Melia Biyang telah terbukti dapat menjadi suplemen berkhasiat untuk menjaga Kesehatan dan Kebugaran…

Nilai-nilai ke-Jawa-an

Sebagai suatu peradaban manusia, maka Jawa memiliki nilai-nilai (values) yang berguna dan mampu memandu bagi manusianya untuk menjalani hidup.Pada kenyataannya, hidup manusia tidaklah sendirian tetapi bersama manusia yang lain maupun semua mahluk ciptaan Tuhan lainnya.Secara umum nilai-nilai budaya dan peradaban suatu komunitas manusia ada yang bersifat unuiversal, tetapi juga ada yang hanya berlaku untuk komunitas manusia yang bersangkutan.

Dalam konteks Jawa sebagai bagian Indonesia dan bagian peradaban seluruh umat manusia, maka nilai-nilai ke-Jawa-an yang perlu diselisik adalah yang berkaitan dengan kepentingan ke-Indonesia-an dan kemanusiaan sejagad.Namun demikian, diperlukan diskripsi dari ke-Jawa-an mencakup :

1. Spiritualisme Jawa, meliputi konsep teologi, mitologi, kosmologi menurut pandangan Jawa.

2.Falsafah Jawa (Kawruh Kejawen), ajaran/tuntunan hidup Jawa.

3.Laku Budaya Jawa dan Tradisi/Adat Jawa, jabaran tentang ritus-ritus Jawa: kelahiran, perkawinan, kematian, ruwatan, selamatan, dll.

4. Seni Budaya Jawa, pagelaran wayang, karawitan, kidungan dan macapatan, ilmu kalang (arsitek Jawa), keris, batik, gerabah, ukir, patung, seni tari, dlsb.

5.Bahasa dan Sastra Jawa.

Lingkup cakupan bisa diperluas, namun membutuhkan para pakar dan penelitian intensif sehingga diskripsi yang dihasilkan valid untuk diangkat ke atas dan disebarkan sebagai persembahan Jawa kepada ke-Indonesia-an dan peradaban umat manusia.

Sejak jaman prasejarah hingga era modernisasi saat ini, nilai-nilai ke-Jawa-an belum pernah didiskripsikan untuk menjadi suatu ‘studi’.Namun secara alamiah telah mengalirkan nilai-nilainya ke peradaban Indonesia dan mungkin dunia.Ke dalam, Jawa tidak memiliki lembaga dan sistim pengajaran dari generasi ke generasi.Maka tidak memiliki manajemen dan strategi dalam bertahan terhadap gerusan budaya dan peradaban lain.Namun demikian, kenyataannya masih ulet dan belum lenyap dari muka bumi.Justru merupakan misteri akan ‘ketahanan alamiahnya’ menghadapi deraan dan gerusan budaya dan peradaban lain.

Sebagai indikasi yang menunjukkan ‘ketahanan Jawa’ tersebut diantaranya :

1. Aliran masuk budaya dan peradaban India melalui sebaran agama Hindu dan Budha di Jawa cukup intensif dan bermasa panjang (seribu tahunan), Bahkan wangsa-wangsa pembawa agama Hindu dan Budha pernah mengalami kejayaannya di Jawa.Namun ketika wangsa-wangsa itu surut, di Jawa hanya tertinggal candi-candi tempat peribadatan tanpa komunitas kedua agama tersebut yang signifikan.Sikjap wong Jawa terhadap candi-candi yang tertinggal begitu acuh tidak punya perhatian.

2.Sinkretisme Budha-Hindu Syiwa-Kejawen membuat Majapahit begitu jaya, namun ketika runtuh tidak meninggalkan bekas yang signifikan pada budaya dan peradaban Jawa.

3.Sebaran agama Islam yang berjalan sejak abad 11 M sampai sekarang, ternyata belum mampu mengkooptasi Jawa.Mayoritas muslim Jawa tidak paham dengan arti doa mereka ketika bersembahyang kepada Tuhan.Seolah-olah kesediaan Jawa menerima Islam sekedar ‘lamis’, dilapis luar.

4.Eksistensi bahasa Jawa Ngoko masih terus berjalan sampai saat ini meskipun tanpa sistim pembelajaran.

Indikasi ‘ketahanan Jawa’ tersebut secara nyata menunjukkan kepada kita, bahwa ada ‘keuletan’ Jawa beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang dijalani.Bahkan yang menarik, Jawa selalu mampu meredam terjadinya konflik antar komunitas manusia di buminya.Hal ini sangat menarik untuk dikaji mendalam.


 

[1] Tim Perumus Kurikulum Bahasa Indonesia untuk SMK, Dikmenjur – Diknas, 2003.

[2]Istilah dari penulis (KSM).

[3]Bawarasa Kawruh Kejawen, Ki Sondong Mandali – Yayasan Sekar Jagad.

[4]Laporan reportase Jaya Suprana dalam tayangan TV

[5]Pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945

[6]Serat Kandha (Yasadipura I) dan Serat Paramayoga (Ranggawarsita).

Terapi Kanker, Diabetes, Hipertensi, Stroke termuarah hanya dengan Produk PT MSS, dapatkan via http://www.kdpbiz.com/?page_id=217

Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Apa itu gerakan renaisans Jawa?

  1. Saya mau tanya tentang ruwatan, apa saja syaratnya, mengapa harus dilakukan ruwatan, dan kapan dilakukan ruwatan masal. TOlong di beritahu kalau akan diadakan ruwatan masal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s