Wacana Pembuka

Wacana Gerakan Renaissance Jawa

Pasugatan dari: Ki Sondong Mandali

Mangkya darajating praja, kawuryan wus sunyaruri, rurah pangrehing ukara, karana tanpa palupi, atilar silastuti, sujana sarjana kelu, kalulun Kalatidha, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dene karoban rubeda

(R.Ng. Ranggawarsita, Serat Kalatidha pupuh Sinom)

‘Suatu saat nanti kondisi negara kelihatan hampa sepi (sunyaruri), rusak penyusunan kebijakan/peraturan (pangrehing ukara), karena tanpa dilandasi pedoman kebaikan, meninggalkan sembah bakti (keimanan), para cerdik cendekia ikut terbawa arus ‘jaman edan’ (kalatidha), lenyap tandha keberadaban, dunia (tata kehidupan) bosah-baseh karena banyak masalah’. [1]

Menyimak keadaan yang ada pada sekarang ini, ‘ramalan’ (peringatan) Pujangga Ranggawarsita tersebut sepertinya menjadi kenyataan. Krisis multidimensi melanda negeri kita ini hingga terpuruk berat dan kehilangan pamor sebagai negara yang ‘tata tentrem kerta raharja’ (tertib, aman, makmur dan menyejahterakan rakyatnya). Virus pragmatisme ‘pokoke kanthong isi’ produk jaman edan (kalatidha, jaman rusak) menyebar luas dan merata sehingga melahirkan pekerti-pekerti buruk anak bangsa:

1. Nyadhong (meminta-minta) yang melahirkan budaya suap dalam segala urusan hidup.

2. Nggemblong (melengket) kepada yang berkuasa dan yang berharta hingga melahirkan karakter centeng (premanisme).

3. Nyolong (mencuri), melahirkan budaya korupsi yang nyaris merata di segala lini kehidupan.

4. Nggarong (merampok, merampas, memeras), termasuk merampok harta negara.

5. Ndomblong (bengong), tidak mengerti apa-apa termasuk tidak mengerti makna hidupnya sendiri.

Kelima pekerti buruk tersebut tertengarai ‘ada’ dan ‘merata’ di tengah masyarakat kita. Maka sangat merusak perikehidupan bangsa dan bisa menjadikan kita ‘gagal’ bernegara. Lebih buruk dari sekedar sunyaruri (negara tanpa makna). Suatu kemungkinan yang jelas kita semua tidak menginginkannya. Oleh karena itu, kita yang merasa sebagai bangsa Indonesia, harus tergerak hati dan tumbuh semangat juang kita untuk mengatasi ‘bosah-baseh’-nya tata kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat tersebut.

Jawa sebagai unsur Indonesia yang ‘dominan’ sudah semestinya memberikan persembahan nilai-nilai budaya dan peradabannya yang ‘adiluhung’ guna mengatasi krisis yang mendera Indonesia.

‘Napak tilas’ kejayaan Majapahit di masa lalu, maka bisa diselisik peran dan persembahan Jawa kepada kejayaan Nusantara. Setidaknya terwariskan suatu konsep bernegara dalam pandhangan Jawa, yaitu: ‘Negari kang adi dasa purwa, panjang pocapane punjung kawibawane, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem lan raharja’. (Negara berdaulat sepuluh besar dunia, bercitra baik dan dihormati negara lain. Mampu mencukupi kebutuhan dan mensejahterakan rakyatnya. Tertib aman tenteram makmur dan sejahtera).

Meski kalimat konsep bernegara tersebut sekedar kalimat ‘janturan pambuka’ seorang dalang ketika memulai pagelaran wayang, namun perlu diingat bahwa pagelaran wayang merupakan bagian sistim pendidikan Jawa untuk masyarakat dalam bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. ‘Janturan pambuka’ lebih tepat kita sebut sebagai upaya internalisasi cita-cita bernegara kepada seluruh rakyat semesta model Jawa. Namun, dikarenakan konsep adiluhung dalam bernegara tersebut dikemas dalam bahasa ‘suluk’ (bahasa pujangga) sehingga menjadikan kurang dipahami masyarakat awam. Mereka sekedar mampu menghapal kalimat ‘suluk’ tersebut tanpa mengerti makna isi dan tujuannya. Demikian kiranya masih sangat banyak nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang terwariskan ke generasi berikut dikemas dengan ‘bahasa pujangga’ yang tidak mudah dipahami awam.

Menyadari adanya kendala bahasa dalam mewujudkan persembahan Jawa kepada Indonesia, maka kami ‘Paguyuban Sekar Jagad’ melakukan upaya-upaya untuk lahirnya ‘Gerakan Renaissance Jawa’. Adalah merupakan ‘gerakan’ penilisikan nilai-nilai Jawa yang cemerlang adiluhung, kemudian diangkat ke atas sehingga membuat wong Jawa menemukan kembali panduan menjalani hidup warisan para cerdik cendekianya sendiri. Dengan kata lain, merupakan gerakan agar umat Jawa menemukan kembali kedaulatan spiritualnya. Kedaulatan spiritual Jawa berlandaskan: 1) kesadaran religius (ber-Tuhan), 2) kesadaran kesemestaan, dan 3) kesadaran keberadaban.

Terinternalisasikannya nilai-nilai, atau mampu kembalinya kedaulatan spiritual Jawa dengan sendirinya akan berpengaruh terhadap tatanan sosial bangsa Indonesia. Wong Jawa merupakan bagian Indonesia yang paling besar jumlahnya dan sudah menyelusup di segala aspek kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Kemampuan watak Jawa dalam ngemong dan momot berbagai budaya dan peradaban dengan sendirinya akan menjadi perekat kebersamaan pluralitas Indonesia. Budaya dan peradaban masing-masing unsur Indonesia akan termotivasi untuk berkembang maju dalam aras kerukunan dan keselarasan persembahan Jawa. Ya, saat itulah terwujudnya Indonesia Tamansari Dunia yang dicita-citakan para pendiri bangsa dan negara kita.

Bertolak dari alur pemikiran untuk menggerakkan renaisans Jawa, kami (Paguyuban Sekar Jagad) melakukan serangkaian sarasehan untuk menggali nilai-nilai dasar budaya dan peradaban Jawa. Dari hasil sarasehan-sarasehan tersebut bisa disimpulkan nilai-nilai dasar filosofi Jawa yang universal, sebagi berikut :

1. Religius (ber-Tuhan), landasannya Kawruh Sangkan Paraning Dumadi.

2. Panunggalan Semesta, landasannya Kawruh Manunggaling Kawula Gusti dan Jumbuhing Jagad Cilik dan Jagad Gedhe.

3. Keberadaban Manusia, landasannya Kawruh Cipta Rasa Karsa dan Piwulang Kautaman

4. Kerukunan dan Keselarasan, landasannya kawruh Memayu Hayuning Bawana dan Laku Kalangwan (Mempersembahkan Keindahan).

Nilai-nilai dasar filosofi Jawa tersebut menjadi ‘roh’ dan mewarnai unsur-unsur budaya dan peradaban Jawa yang meliputi:

1. Spiritualisme (Kebatinan) Jawa, termasuk di dalamnya sistim religi dan mitologi Jawa.

2. Kawruh Kejawen, termasuk di dalamnya tentang ilmu pengetahuan dan teknologi Jawa.

3. Laku Budaya dan Tradisi Adat Jawa, diantaranya meliputi ritus-ritus: kelahiran, perkawinan, kematian, selamatan, sesaji, ruwatan, merti desa, dlsb.

4. Seni Budaya Jawa yang meliputi olah seni dan kriya, seperti: wayang, gamelan, keris, batik, arsitektur, ukir, patung, gerabah, dlsb.

5. Bahasa dan Sastra Jawa (termasuk aksara Jawa)[2]

Semua nilai-nilai filosofi Jawa bisa diturunkan dalam bentuk segala aspek pranata kehidupan: sosial, ekonomi, budaya, hukum, dlsb. Maka dengan demikian bisa dijadikan sebagai ‘Ilmu Jawa’ (Javanologi). Bertolak dari ilmu-ilmu Jawa tersebut bisa dirumuskan menjadi suatu ‘ideologi Jawa’. Ketika sudah mengemuka pada tahapan ‘ideologi’ maka bisa dialirkan ke dalam ‘kompetisi arus nilai-nilai’ yang saat ini melanda seluruh peradaban umat manusia.

Pada dasarnya pergulatan nilai-nilai yang ada di dunia saat ini merupakan pergulatan (mendekati benturan) nilai-nilai religius agama dengan nilai-nilai rasionalitas Barat. Maka nilai-nilai Jawa yang mengedepankan makna ‘sejatining urip’ (hakekat hidup) dimungkinkan menjadi nilai-nilai alternatif bagi umat manusia sedunia untuk lebih mengutamakan makna hidup bersama yang ‘tata tentrem kerta raharja’.

Cita-cita renaissance Jawa tidak gampang mewujudkan mengingat pada kenyataan yang ada, jagad Jawa saat ini benar-benar sudah dalam keadaan bosah-baseh. Carut marut benturan antar nilai-nilai justru sedang menekan Jawa hingga sedemikian terpuruk berat. Nilai adiluhung sudah jauh tersisih oleh kepentingan pragmatisme ‘pokoke kantong isi’. Situasi buruk ini yang kemudian menjadikan umat Jawa tipis mental ideologinya. Akibat seriusnya menjadikan wong Jawa sebagai manusia kelas jongos dan babu yang pekertinya ‘nyadhong nggemblong nyolong nggarong ndomblong’ sebagaimana telah diutarakan..

Secara kasat mata karakter ‘nyadhong nggemblong nyolong nggarong ndomblong’ tersebut benar-benar ada dan nyata di tengah kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Tidak sekedar pada yang jelata, tetapi kaum elit pun tidak sedikit yang berkarakter ‘nyadhong-nggemblong-nyolong-nggarong-ndomblong’ tersebut. Inilah jaman edan, yang tidak ikut edan tidak bakal kebagian. Namun sesenang apapun orang yang terlena, masih bahagia mereka yang eling dan waspada.

Persoalannya kemudian, bagaimana membangkitkan eling dan waspada tersebut ?

Dalam pandangan Jawa, semua yang ada merupakan suatu kesatuan tunggal semesta. Artinya bahwa yang ada di seluruh jagad raya ini terhubungkan secara ‘kosmis-magis’. Jumbuh antara jagad gedhe (alam semesta) dengan jagad cilik (manusia). Maka untuk menata kembali ‘bosah-baseh’-nya semesta Jawa dibutuhkan ‘mahamantra’ dari seluruh daya spirituilnya umat Jawa. ‘Mahamantra Jawa’ ada terwariskan kepada kita secara jangkep dalam bentuk lakubudaya dan senibudaya Jawa yang intinya ‘mempersembahkan keindahan’ kepada semesta, kalangwan (istilah Prof. P.J. Zoetmulder).

Salah satu persembahan keindahan untuk semesta berupa ‘mantraswara’ yang dilakukan dalam ritual kidungan macapat, ritual gamelan, pagelaran wayang yang bermakna sebagai upaya ‘memayu hayuning bawana’. Sayangnya, persembahan untuk semesta semacam ini sudah jarang diadakan. Maka kita wong Jawa terlena dan membiarkan nuansa semesta Jawa diisi ‘swara-swara asing’ yang membuat nuansa semesta Jawa bosah-baseh tersebut.

Mohon maaf, wacana yang tersampaikan ini memang agak ‘nyleneh’ dan mungkin sulit untuk diterima dan diyakini. Namun, barangkali saja boleh saya mengingatkan adanya pembagian peta dunia dalan wilayah-wilayah ‘geo spiritual’. Juga adanya ‘wiji spiritual’ peparingnya Tuhan kepada setiap bangsa yang sesuai dan sejalan untuk menjalani hidup di wilayah ‘geo spiritual’ masing-masing bangsa tersebut diciptakan. ‘Geo spiritual Jawa’ jumbuhnya dengan manusia yang ber-’wiji spiritual Jawa’. Ketika wong Jawa tidak lagi mengoperasionalkan wiji spiritualnya sendiri dan lebih memilih jadi bangsa tiron asing, maka semesta Jawa akan semakin bosah-baseh kehilangan kehayuannya. Ketika semesta Jawa kehilangan kehayuannya, maka nuansa kehidupan bagi manusianya juga tambah bosah-baseh, tidak nyaman serta penuh ketegangan dan konflik.

Demikian wacana curah gagas ini disampaikan. Selamat berulang tahun kepada Bapak Djoko Aminoto, semoga selalu mendapat limpahan kawilujengan dan karahayon. Sumangga Gusti anggen paduka ngasta ing sedayanipun”, swuhn. © KSM.

Ki Sondong Mandali, nama lain dari Totok Djoko Winarto

Ketua Yayasan Sekar Jagad

Alamat:

Jl. Keruing II No. 111, Banyumanik – Semarang 50263

Tilp. : (024) 7477292; HP: 08157611019, 081390478229, 08179522629, 08882572343

E-mail: kisondongmandali@yahoo.com

___________________


[1] Terjemah dan tafsir Ki Sondong Mandali

[2] Yayasan Sekar Jagad telah memprakarsai Unicode Registration Aksara Jawa (Komputerisasi Aksara Jawa) yang mendapat bantuan UNESCO pada th. 2006. Insya Allah pada Oktober 2009 nanti registrasi ke Unicode Consurtium disyahkan.

2 Balasan ke Wacana Pembuka

  1. soewarno berkata:

    ki sondong mandali
    saya orang jawa ning ra njawa karena lahir dijawa tetapi dibawa trans ke sumatera semasa bayi. Sekarang saya sudah tua 66th. Pingin njowo dan untuk itu saya mencari panjeneng an dan membaca tulisan2 panjenengan. Karena saya gaptek dan buodo ela elo, untuk itu saya mohon bimbingan.
    Terimakasih
    soewarno
    manggala yudha gajah kencana

  2. hoboshapien berkata:

    Jawadwipa and balidwipa also swarnadwipa merupakan jalur tak terpisahkan. Babadbali.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s